Kaderisasi,Pemimpin dan Organisasi

Jumat, Agustus 06, 2010

Kaderisasi,bukan hal yang asing untuk sebuah organisasi. Kaderisasi ada karena dibutuhkan generasi baru untuk melanjutkan keberjalanan organisasi itu sendiri supaya tidak vakum, bahkan mati. Kaderisasi itu penting,urgent,krusial. Metode kaderisasi yang digunakan akan menentukan masa depan keberlangsungan organisasi tersebut.

Kaderisasi sangat berguna untuk menemukan bibit unggul kader-kader baru yang siap untuk memimpin. Jujur saya tidak suka dengan kaderisasi yang main-main atau yang terselenggara karena sudah deadline tanpa sebuah perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan,yang jelas apapun itu akan berjalan kacau. Dan jika tidak terealisasi karena terlalu lama berencana, juga sama saja bohong. So, lakukan dengan balance.

Menurut saya, metode kaderisasi memang akan sangat menentukan kader-kader selanjutnya. Salah satu metode yang saya alami adalah kaderisasi yang sangat tertutup,kesenjangan yang kental dan jelas antara pengkader dan calon kader. Membuat kami selalu salah dan tidak diterima. Pada akhirnya, kami menjadi sangat tertutup di awal, dan terjadi suatu gap. Gap antar angkatan.

Mulai bercerita,biarkan saya melakukannya..
Gap ini bukan hal yang asing di major kami. Walaupun kontak,komunikasi sering terjalin, tetap saja yang namanya gap ya gap. Sulit dihapus. Kalau saya ditanya bagaimana memutus rantainya, saya juga bingung.Tapi saya punya satu solusi. Become friendly dan encouragement. Mungkin itu memang yang paling pas.

Hal lain yang saya pelajari adalah kepemimpinan. Saya makin belajar banyak tentang organisasi,tentang karakter sebuah organisasi yang sangat bergantung pada pimpinannya.Pemimpin santai,tidak bervisi,ngawang,blank,hanya akan merepotkan anggota dan membawa kehancuran organisasi tersebut. Saya belajar banyak betapa pentingnya seorang pemimpin untuk sebuah organisasi. Pemimpin yang dibutuhkan adalah seseorang yang care, punya sense of encouragement yang tinggi sehingga bisa merangkul setiap anggotanya dan membuat mereka yang ada nyaman dengan keberadaan dan posisi yang diberikan,konsultatif,solutif,dan tidak keras kepala. Seorang pemimpin juga harus mampu independent, tidak mudah ikut-ikutan tetapi juga tidak canggung dan kaku. Bisa membaca situasi sehingga tidak reaktif terhadap setiap masalah.

Nah,karakter pemimpin ini juga tidak akan jauh dari karakter kaderisasi yang ada. Metode yang salah bisa memberikan dampak yang fatal, yaitu menciptakan karakter yang buruk untuk angkatan anggota baru dan pada akhirnya mereka pun memilih seseorang yang tidak tepat sebagai ketua. Bisa juga terjadi karena kurangnya informasi dan metode penyampaian tentang kepemimpin yang tidak jelas dan tepat sehingga materi tidak tersampaikan dengan baik.

Saya setuju dengan kaderisasi yang keras tetapi mendidik. Contohnya kaderisasi organisasi kemahasiswaan. Kaderisasi mahasiswa tidak akan pernah jauh dari agitasi. Justru,itu hal yang wajib.

Tentang agitasi sebagai bagian kaderisasi,saya setuju sebenarnya,sejauh agitasi itu bisa melatih mental,kedisiplinan,dan merangkap peran sebagai motivator. Seseorang pada dasarnya harus terus dilatih dan terlatih untuk hidup keluar dari zona nyaman dan berpikir di luar kotak(think out of box). Sangat setuju dengan suatu pernyataan yang pernah saya dengar bahwa karakter seseorang yang sebenarnya akan terlihat saat dia di bawah tekanan.

Saya tidak mengerti mengapa makin kesini mahasiswa itu jadi makin lenje-lenje. Makin banyak seneng-seneng dan lebih suka sesuatu yang berbau hedonis. Saya rindu sekali dengan mahasiswa era 80 atau 90-an. Mereka yang kritis,tidak pragmatis,solutif dan berani bertindak dan berbicara lantang terhadap pemerintah. Saya kurang paham apakah ini pengaruh metode kaderisasi yang lebih mengarah pada diskusi dibandingkan metode lapangan atau karena memang ada yang salah dengan sistem pendidikan sehingga regenerasi kritis itu hampir terhapus dan terputus.

Contoh, di kampus saya, yang namanya kajian sangat-sangat jarang. Ini sejauh yang saya dengar. Bahkan,yang saya dengar juga, kalaupun ada,yang datang pasti sangat sedikit. Semua lebih ingin cepat beres dan eksekusi untuk setiap kepanitiaan. Sedih,saya benar-benar sedih.

Untungnya saya berkesempatan untuk melihat calon kader himpunan kami, dan hasilnya, mengecewakan. Keluhan, itulah yang hanya bisa terdengar. Capek, itu saja yang keluar. Terus, kalau tidak mau capek, apa yang bisa kamu berikan? Bingung..padahal metode yang diterapkan itu sudah sangat lembut dan banyak sekali pertimbangan.

Sadarilah kamu bukan siswa lagi, tapi sudah ada embel "MAHA" di depannya.

Seorang mahasiswa adalah suatu yang spesial. Saya sadar betul. Saat kita hanya seorang siswa,kita akan selalu di bawah kontrol orang lain,baik itu orang tua,guru,dll. Dan saat kita menginjak suatu posisi yang disebut mahasiswa, tuntutan untuk lebih mandiri dan mengatur jalan hidup sendiri mulai terbuka. Pada akhirnya, saat posisi itu ditinggalkan,kita akan lebih berpikir tentang keberlangsungan hidup masing-masing hidup dan perencanaan tentang sebuah keluarga yang akan dibangun beberapa tahun lagi. Dari ketiga posisi itu, jelas sekali jika mahasiswa adalah posisi ideal untuk bisa berpikir kritis terhadap segala sesuatu.

Mungkin topik tulisan saya ini sudah terlalu banyak bertebaran dimana-mana dan banyak yang lebih baik. Sudah basi.

Yang jelas,saya bukan orang yang terlalu idealis,hanya mencoba untuk terus bisa bergerak selama saya masih memiliki kesempatan untuk menjadi seorang mahasiswa. Dan tak dapat dipungkiri, sebuah organisasi adalah wadah yang pas untuk terus mengembangkan soft skill saya. Yang saya berikan mungkin hanya sejauh ini.


1 comments:

Pribadi mengatakan...

kalau mau kajian yg lama bgt, pake kuorum, masuk HIMAFI deh, hehehe...

bahas tujuan aja bisa 2 jam lebih..

tapi memang sih nilai kritis dan bla bla lainnya sudah mulai luntur.

pertanda baik kah atau buruk kah entahlah..

Poskan Komentar